Jawaban Atas Keyakinan Semu
20 Januari 2009
Mendengar Kata Hati
Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk bisa menguasai sesuatu, rakus, membunuh dan sebagainya dalam menghadapi dan menjalankan kehidupan ini. Sehingga tak jarang bahwa karunia tuhan yang membedakan dengan mahkluk lain berupa akal dan nurani tak terpakai dalam menghadapai kenyataan. Dengan segala cara yang ditempuh untuk mewujudkan sesuatu pun dihalalkan. Proses yang sebenarnya menjadi jawaban atas segala yang diinginkan bukan lagi menjadi dasar dalam mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang. lalu kemana dan bagaimana kita akan melangkah?
Apakah kita punya agama sebagai keyakinan dalam menjalankan kehidupan? yang tekadang kewajiban untuk melaksanakannya terabaikan, terlupankan, urusan belakang. atau kita punya ideologi sebagai prinsip dasar dalam merebut cita-cita? yang terkadang mengganggu, meneror, atau bahkan meresahkan. atau kita punya budaya atau adat istiadat? yang terkadang norma-norma yang telah berlaku sejak lama dengan mudahnya kita dilanggar.
Ya, mungkin itulah keyakinan semu, punya kepercayaan tapi terabaikan, punya ideologi namun meresahkan, punya adat istiadatpun dihancurkan. Tak salah bila ketimpangan dan penyakit sosial yang tumbuh dan berkembang biak hari ini karena semunya keyakinan kita. Persoalan tersebut harus dijawab dengan segera, seiring dengan kian kompleksnya masalah dalam kehidupan, sehingga cita-cita kita membangun syurga diatas dunia dapat diwujudkan bersama-sama.
Dari sekian banyak agama, aliran kepercayaan, ideologi, budaya dan adat istiadat sulit rasanya membahas hal tersebut satu persatu, namun kita tak perlu jauh-jauh untuk menemukan jawabannya, semua ada dalam diri kita, yaitu hati nurani kita. karena ia tak pernah bohong, karena ia tak pernah ragu, karena ia begitu tulus, karena ia terang dalam kegelapan. Sejauh apapun kita menghindar dari hal apapun, kata hati tak dapat dipungkiri, sehina apapun kita, sekotor apapun kita, seburuk apapun kita, namun kita masih punya harta yang paling berharga berupa hati nurani.



20 Januari 2009 at 12:18 pm
Sawung Jabo pernah berkata pada saya, “Aku ki tukang ngapusi. Keluarga, bojo, kanca-kanca, kabeh tau takapusi. Ning nek berkarya aku ra tau ngapusi. Nek nganti ngapusi, kere tenan aku”. Salam kenal. terima kasih sudah berkunjung ke Sulang Online.
21 Januari 2009 at 6:49 am
jangan begitu saudaraku, jangan begitu. aku akan menyapa kalian semua dengan masing-masing. secara khusus aku pasti akan menyapa km juga. pasti..untuk km aku sedang memikirkan sesuatu yg terbaik dan mendalam. karena setiap kali aku membaca tulisan km, aku selalu menemukan sesuatu yang mendalam, terutama tulisan km yg terbaru ini.
kaya dengan pesan-pesan etika, moral, politik dan segalanya yang diramu dalam sebuah tulisan yg indah. ini benar-benar hebat. aku malu kalau tidak menuliskan sesuatu yang sama hebatnya dgn ini. tunggu aja ya
7 Februari 2009 at 2:24 pm
Memang seperti Rakus, Egois, Serakah merupakan sifat dasar manusia.
Hanya Agama dan Hati Nurani yang Tulus bisa meredam sifat – sifat dasar manusia yang sangat Negatif.
Yang penting kita mau belajar dari kesalahan untuk menuju kebenaran daripada harus selalu mengulangi kesalahan padahal kita tahu akan kebenaran.