Tak ada kata yang mampu mengungkapkan kepedihan dan perasaan rakyat Palestina hari ini, ketika bagian dari anggota keluarga mereka harus gugur akibat ganasnya rudal israel, ketika seorang anak dan ibu harus dipisahkan dengan hitungan waktu yang paling cepat, hanya jerit dan tangis sebagai jawaban atas keadaan itu. Tetesan air mata yang tertumpah dipelukan tanah palestina, darah beku yang berantakan disetiap sudut tanah gaza, tak mampu menghentikan gencatan senjata. Sekian detik yang di lalui dengan ledakan api kebencian, setiap menit yang di jalani dengan batas normal ketakutan, setiap jam dan hari harus di hiasi dengan darah dan air mata. Lalu untuk siapa itu ada? Tak perduli untuk siapa rudal israel yang mendarat di palestina itu ditujukan, untuk apa dan kepada siapa perang itu disampaikan, yang jelas warga sipil bukan target pembantaian.

Hidup dalam kondisi dibawah tekanan mesin-mesin pembunuh, menghela bernafas disisi moncong senjata, tidur beralas mayat sanak keluarga adalah mimpi buruk yang diharap tak pernah ada. Walau hati terus menjerit agar ini hanya mimpi disiang bolong, hanya ilusi takala putus asa atau fatamorgana digurun tandus, namun rasa itu nyata adanya, dekat, dekat, dan dekat sekali. Hancurnya kota kami tak sehancur hati kami, rusaknya raga kami tak separah jiwa kami, hentikan segera perang ini atau akan banyak persoalan dikemudian hari.

Sekian banyak analisa politik dan ekonomi sebagai warna-warni berita media massa, tak mampu memalukan israel di depan mata dunia, tak mampu menutup mulut pasukan israel untuk segera hengkang dari medan tempur, dan tak membuat organisasi yang katanya adalah persatuan dari dunia melakukan tindakan yang benar-benar nyata. Teriakan dan hujatan dalam setiap aksi menentang penyerangan israel ke palestina yang terjadi di seluruh penjuru dunia dan dari lapisan manapun, juga tak mampu merubah keyakinan akan perang itu.

Mendengar Kata Hati

Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk bisa menguasai sesuatu, rakus, membunuh dan sebagainya dalam menghadapi dan menjalankan kehidupan ini. Sehingga tak jarang bahwa karunia tuhan yang membedakan dengan mahkluk lain berupa akal dan nurani tak terpakai dalam menghadapai kenyataan. Dengan segala cara yang ditempuh untuk mewujudkan sesuatu pun dihalalkan. Proses yang sebenarnya menjadi jawaban atas segala yang diinginkan bukan lagi menjadi dasar dalam mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang. lalu kemana dan bagaimana kita akan melangkah?

Apakah kita punya agama sebagai keyakinan dalam menjalankan kehidupan? yang tekadang kewajiban untuk melaksanakannya terabaikan, terlupankan, urusan belakang. atau kita punya ideologi sebagai prinsip dasar dalam merebut cita-cita? yang terkadang mengganggu, meneror, atau bahkan meresahkan. atau kita punya budaya atau adat istiadat? yang terkadang norma-norma yang telah berlaku sejak lama dengan mudahnya kita dilanggar.

Ya, mungkin itulah keyakinan semu, punya kepercayaan tapi terabaikan, punya ideologi namun meresahkan, punya adat istiadatpun dihancurkan. Tak salah bila ketimpangan dan penyakit sosial yang tumbuh dan berkembang biak hari ini karena semunya keyakinan kita. Persoalan tersebut harus dijawab dengan segera, seiring dengan kian kompleksnya masalah dalam kehidupan, sehingga cita-cita kita membangun syurga diatas dunia dapat diwujudkan bersama-sama.

Dari sekian banyak agama, aliran kepercayaan, ideologi, budaya dan adat istiadat sulit rasanya membahas hal tersebut satu persatu, namun kita tak perlu jauh-jauh untuk menemukan jawabannya, semua ada dalam diri kita, yaitu hati nurani kita. karena ia tak pernah bohong, karena ia tak pernah ragu, karena ia begitu tulus, karena ia terang dalam kegelapan. Sejauh apapun kita menghindar dari hal apapun, kata hati tak dapat dipungkiri, sehina apapun kita, sekotor apapun kita, seburuk apapun kita, namun kita masih punya harta yang paling berharga berupa hati nurani.