Salah Siapa ‘mereka’ telanjang
31 Desember 2008
Maraknya perbincangan selangkangan dan sekitarnya artis cantik azhari bersaudara, bukanlah sebuah kasus yang aneh kedengarannya. Terlepas dari asli dan palsunya foto yang beredar di pasaran tidak terlalu penting kiranya, image sexy pada azhari bersaudara bagai sisi mata uang yang berdekatan, bersampingan, dan tak terpisahkan. Tapi kiranya itu terlalu personal untuk diperbincangkan atau dibahas.
Tapi hal yang perlu kita perhatikan bahwa kasus seperti itu bukan hanya terjadi pada kalangan selebritis saja, namun sudah menjamur kesemua kalangan dari pelajar hingga yang tidak terpelajar sekalipun. Hanya perbedaannya terletak pada mana daya jual yang lebih tinggi.
Butuhkah masyarakat akan persoalan yang terlalu personal seperti itu? bila jawaban anda YA, berarti berita tentang pelecehan sexsual anak dibawah umur bukan hal yang memalukan, berarti meningkatnya jumlah penjajah sex disetiap sudut kota bukanlah hal yang memprihatinkan, berarti persoalan sex bebas yang mengakibatkan HIV/AIDS itu persoalan nanti.
Bukankah seorang artis yang berpenampilan sexy adalah tuntutan dari skenario atau alasan profesionalisme (artis juga cari makan), celana mini yang dikenakan pelayan sebuah market perbelanjaan adalah sebuah kewajiban yang mutlak dan tak sedikit yang melarang menggunakan jilbab (pelayan juga cari makan) atau yang lebih ekstrem seorang PSK yang menjajahkan tubuhnya ke orang banyak adalah tuntutan dari anak mereka yang butuh susu dan sekolah (PSK juga cari makan)
Apakah kasus tersebut sebuah trend baru? itu adalah mata rantai dari sebuah skenario panjang yang dimulai dari lemahnya kontrol sosial masyarakat, bisa saja itu dimulai dengan tontonan dan bacaan yang tidak pada waktu dan tempatnya (film blue dan stensil) berimbas pada rasa penasaran dan mencoba-coba untuk merasakan apa yang dilihat, dan itu terjadi secara massal dan berangsur-angsur sehingga terbentuklah pergaulan bebas, atau ke efek yang sejenis lainnya.
Sulit memang untuk dimengerti dan terlalu singkat untuk ditulis dalam sebuah makalah atau buku, begitu kompleks persoalan yang terjadi seputar syahwat bisa-bisa nyambung hingga ke persoalan politik. Baik kiranya kita tanya hati nurani kita apa jawabannya!
Mahasiswa Vs Dosen
31 Desember 2008
Saat masih duduk di bangku kuliah di sebuah universitas negeri terkemuka di indonesia. ada sebuah cerita yang mungkin sangat menyedihkan terlebih buat saya pribadi, saat itu perkuliahan telah memasuki minggu ke 4, dan di saat itu pula saya baru “sempat” untuk masuk kuliah, di karnakan beberapa alasan dan hal yang tak mampu saya tinggalkan.
Singkat punya cerita saya pun berniat untuk masuk salah satu mata kuliah tersebut, namun ketika saya menemui dosen yang memberikan mata kuliah tersebut Terjadilah percakapan yang mungkin bisa saya simpulkan:
1. ternyata sistem pendidikan kita dominan hanya di ukur lewat absen, lewat dari 75% kahadiran maka dipastikan tidak akan mendapatkan nilai karena tidak bisa ikut UTS apalagi UAS.
2. bisa atau tidaknya mahasiswa menerima dan mengerti mata kuliah yang di ajarkan itu tidak penting, yang penting tatap muka nak, bodoh, tolol, bahkan dungu sekalipun bisa dapat nilai asal ketemu dosen (bukan berarti yang pindar dan yang sudah paham ga perlu kuliah)
Tapi tak berhenti di sini saja, percakapan beralih ke topik yang lain, bertepatan dengan kaos yang saya pakai dan sandal jepit yang menempil di sepasang kaki saya, geram muka dosen kayaknya, dengan spontan ia berkata: ga sopan kamu, niat ga sih kuliah, kaya tukang becak kamu. tak lama ia pun berbalik arah dan berjalan tanpa basa-basi (kayak orang yang ngajak berantem)
Waduh gawat juga kalau niat mencari ilmu harus di barengi dan di simbolkan dengan pakaian rapi dan pake sepatu, karena akal saya yang bekerja, bukan sandal dan asesorir khan. soal singgungan tukang becak saya juga makin heran, padahal hakekat dalam tri darma perguruan tinggi mahasiswa di ajarkan untuk mengenal lingkungan, respon terhadap persoalan sosial termasuk tukang becak bukan malah menghina tukang becak dengan cara memposisikan abang becak di bawah status sosial.
Dalam cerita ini bukan bermaksud membenarkan atau membela salah satu pihak, namun hendaknya satu sama lain saling mengerti” mahasiswa mengikuti aturan(klo ga substansi lawan aja) dan dosen jangan mau menang sendiri dan merasa paling benar, masalah sistem, ya menurut anda?


