Dimana2 Ga Aman!!!
disini ga aman…
disana ga aman…
dimana2 udah ga aman… 2x
reff
kamu kemana aja…
kamu dimana aja…
kamu kemana2 udah ga aman…
coba kamu nyanyikan syair lagu diatas dengan nada lagu sayonara, sebagai bentuk dukungan kita terhadap siapapun yang sepakat kalo kita memang ga aman
Mendengar Jerit Tangis Rakyat Palestina
Tak ada kata yang mampu mengungkapkan kepedihan dan perasaan rakyat Palestina hari ini, ketika bagian dari anggota keluarga mereka harus gugur akibat ganasnya rudal israel, ketika seorang anak dan ibu harus dipisahkan dengan hitungan waktu yang paling cepat, hanya jerit dan tangis sebagai jawaban atas keadaan itu. Tetesan air mata yang tertumpah dipelukan tanah palestina, darah beku yang berantakan disetiap sudut tanah gaza, tak mampu menghentikan gencatan senjata. Sekian detik yang di lalui dengan ledakan api kebencian, setiap menit yang di jalani dengan batas normal ketakutan, setiap jam dan hari harus di hiasi dengan darah dan air mata. Lalu untuk siapa itu ada? Tak perduli untuk siapa rudal israel yang mendarat di palestina itu ditujukan, untuk apa dan kepada siapa perang itu disampaikan, yang jelas warga sipil bukan target pembantaian.
Hidup dalam kondisi dibawah tekanan mesin-mesin pembunuh, menghela bernafas disisi moncong senjata, tidur beralas mayat sanak keluarga adalah mimpi buruk yang diharap tak pernah ada. Walau hati terus menjerit agar ini hanya mimpi disiang bolong, hanya ilusi takala putus asa atau fatamorgana digurun tandus, namun rasa itu nyata adanya, dekat, dekat, dan dekat sekali. Hancurnya kota kami tak sehancur hati kami, rusaknya raga kami tak separah jiwa kami, hentikan segera perang ini atau akan banyak persoalan dikemudian hari.
Sekian banyak analisa politik dan ekonomi sebagai warna-warni berita media massa, tak mampu memalukan israel di depan mata dunia, tak mampu menutup mulut pasukan israel untuk segera hengkang dari medan tempur, dan tak membuat organisasi yang katanya adalah persatuan dari dunia melakukan tindakan yang benar-benar nyata. Teriakan dan hujatan dalam setiap aksi menentang penyerangan israel ke palestina yang terjadi di seluruh penjuru dunia dan dari lapisan manapun, juga tak mampu merubah keyakinan akan perang itu.
Jawaban Atas Keyakinan Semu
Mendengar Kata Hati
Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk bisa menguasai sesuatu, rakus, membunuh dan sebagainya dalam menghadapi dan menjalankan kehidupan ini. Sehingga tak jarang bahwa karunia tuhan yang membedakan dengan mahkluk lain berupa akal dan nurani tak terpakai dalam menghadapai kenyataan. Dengan segala cara yang ditempuh untuk mewujudkan sesuatu pun dihalalkan. Proses yang sebenarnya menjadi jawaban atas segala yang diinginkan bukan lagi menjadi dasar dalam mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang. lalu kemana dan bagaimana kita akan melangkah?
Apakah kita punya agama sebagai keyakinan dalam menjalankan kehidupan? yang tekadang kewajiban untuk melaksanakannya terabaikan, terlupankan, urusan belakang. atau kita punya ideologi sebagai prinsip dasar dalam merebut cita-cita? yang terkadang mengganggu, meneror, atau bahkan meresahkan. atau kita punya budaya atau adat istiadat? yang terkadang norma-norma yang telah berlaku sejak lama dengan mudahnya kita dilanggar.
Ya, mungkin itulah keyakinan semu, punya kepercayaan tapi terabaikan, punya ideologi namun meresahkan, punya adat istiadatpun dihancurkan. Tak salah bila ketimpangan dan penyakit sosial yang tumbuh dan berkembang biak hari ini karena semunya keyakinan kita. Persoalan tersebut harus dijawab dengan segera, seiring dengan kian kompleksnya masalah dalam kehidupan, sehingga cita-cita kita membangun syurga diatas dunia dapat diwujudkan bersama-sama.
Dari sekian banyak agama, aliran kepercayaan, ideologi, budaya dan adat istiadat sulit rasanya membahas hal tersebut satu persatu, namun kita tak perlu jauh-jauh untuk menemukan jawabannya, semua ada dalam diri kita, yaitu hati nurani kita. karena ia tak pernah bohong, karena ia tak pernah ragu, karena ia begitu tulus, karena ia terang dalam kegelapan. Sejauh apapun kita menghindar dari hal apapun, kata hati tak dapat dipungkiri, sehina apapun kita, sekotor apapun kita, seburuk apapun kita, namun kita masih punya harta yang paling berharga berupa hati nurani.
Konspirasi di warung kopi
“PEMILU 2009 KIAN MEMANAS”
Pendidikan politik merupakan pijakan dasar dalam membangun kehidupan demokrasi sesuai dengan tujuan nasional suata Negara. Demokrasi bisa dinilai berjalan dengan baik ketika partisipasi warga Negara tersebut berperan aktif dalam mewarnai lika-liku kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat tidak hanya ‘ikut-ikutan’ dalam pelaksanaan agenda pemerintahan, akan tetapi punya sikap politik secara mandiri dalam berbagai bidang (ekonomi, social, budaya, hukum & HAM, pendidikan, dll), yang telah diamatkan UUD 1945.
Namun menjadi keliru ketika partisipasi politik diartikan secara personal (pribadi) atau bersifat pragmatis (kenyataan hidup) dengan berbagai motif seperti ekonomi dan status social, sehingga partisipasi masyarakat yang diharapkan menjadi bagian yang paling penting dalam membangun dan melanggengkan kehidupan berdemokrasi menjadi sia-sia.
Ketika ORBA (orde baru) berkuasa, partisispasi dan sikap politik masyarakat dibelenggu, dibatasi, dan nyaris tiada ruang untuk berbeda suara dengan pemerintah, ada satu golongan diistimewakan secara politik dan golongan yang lain dianggap sebagai pelengkap, dan setelah reformasi 98’ berkumandang, barulah ruang demokrasi itu dikit demi sedikit terbuka.
Akan tetapi persoalan tidak selesai sampai disini, warisan hasil pemerintahan ORBA tetap hidup subur ( korupsi, kolusi, nepotisme ) yang mengakar dalam bentuk suatu budaya baru, trend, atau gaya hidup sekalipun. Sehingga menyebar keberbagai aspek dan kesempatan. Walaupun kita masih berharap perubahan diberbagai aspek tersebut berangsur-angsur membaik khususnya dibidang hukum, amin.
Baik kiranya saya mengantar anda pada sebuah kisah nyata nan unik, bagaimana nuansa panasnya PEMILU 2009 dirasa sampai kewarung-warung kopi apa lagi di warung remang-remang ya!!!.
Secara tak sengaja ketika saya terjaga dari tidur malam yang menuntun saya kesebuah warung kopi dekat sebuah kampus negri di Jakarta. Ketika saya sedang meninkmati secangkir kopi untuk mengembalikan sadar saya dari tidur, tak berapa lama datang seorang laki-laki tua, mungkin seumuran kakek saya. Yang kemudian mengajak ngobrol-ngobrol santai. Perbincangan berjalan secara normal layaknya orang baru kenal, hanya seputar nama, asal, tempat tinggal, sekolah atau pekerjaan dan sebagainya.
Namun pembicaraan saya anggap agak aneh setelah beliau bilang sedang menunggu seorang teman. Wow, politik? Dalam hati bertanya-tanya, begitu dasyatnya beliau satu ini, orang biasa yang tinggal dikampung dengan latar belakang pendidikan pas-pas-an, tapi melek ‘politik’ dasyat!
Dengan bahasa yang polos bapak itu bilang ‘lo mau duit ga?’ gw lagi ngatur nih mau ngumpulin massa buat pertemuan dengan orang berduit (salah satu caleg dari sebuah partai) lumayan khan klo satu orang dapet 20ribu apalagi ntar klo kampanye di mulai, waduh berapa duit tuuh kita dapet. bacot beliau ga putus sampai disitu ntar kita mainin aja, gw cari tambahan lagi ntar bareng temen cari caleg lain yang butuh massa, seterusnya biar gw yang atur, ajak aja temen-temen lo!!! mau ga?
karna begahnya mendengar tindakan seperti itu (walaupun butuh duit) ku jawab seadanya seraya dengan sopan berpamitan setelah datangnya seorang teman yang telah lama dinanti bapak tersebut. dari peristiwa tersebut menunjukan secara sepintas bahwa punya uang, punya massa, lalu berkuasa!!! (begitulah realitasnya) menurut anda?
Tersenyum dengan Kemiskinan
Miskin dalam konsep keyakinan kita adalah sejauhmana kita memaknai dan mensyukuri nikmat yang diberikan yang Maha kuasa, besar kecilnya nikmat yang kita rasakan sekarang akan terasa besar ketika itu dinikmati dengan lapang dada dan kecil rasanya bila diterima dengan keluh kesah.
Miskin harta maupun miskin hati bisa kita maknai secara luas tidak bisa hanya diukur lewat besar kecilnya sesuatu yang kita miliki namun bisa kita rasakan. Banyak harta tapi selalu merasa terus kekurangan sehingga menghalalkan segala dengan mengambil hak orang lain sehingga hatinya buta untuk melihat yang lebih tidak baik nasibnya, begitu juga sebaliknya miskin harta tapi memanfaatkan nikmat itu sebaik-baiknya dengan berbagi sehingga hatinya hidup untuk terus bersyukur.
Kemiskinan akar dari kekufuran, kemiskinan akar dari pertentangan social, sehingga tak heran jika meningkatnya angka kemiskinan pasti diikuti dengan naiknya grafik tindak kriminalitas dan kenistaan. Betapa tidak mengherankan hari ini saja banyak berita dibeberapa media massa menayangkan bunuh diri massal sekeluarga akibat factor ekonomi yang kekurangan, betapa pilu hati ini melihat komunitas busung lapar, penganguran, penjajah sex dibawah umur, dan masih banyak efek negative lainnya dari sebuah momok menyeramkan bernama kemiskinan.
Sejauh mata memandang, ternyata ada sebuah kisah nyata yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri yang berkaitan dengan kemiskinan.
Disebuah perkampungan kumuh Jakarta utara, tepatnya daerah tanah merah, saat saya sedang menemui beberapa teman tongkrongan. Apa yang saya lihat memang kontras dengan bangunan dan kemegahan ibukota. Apa lagi ketika saya mau buang air, waduh tak dapat saya bayangkan, airnya tak jauh beda dengan air jamban. Namun saya maknai dengan rasa syukur bahwa dibawah penderitraan pribadi saya masih banyak yang lebih menderita.
Sebut saja bang As teman ku, memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil dan seorang istri, sebut saja bu Sa. Tak lama kami sedang menikmati secangkir kopi, datang seorang ibu-ibu tetangga dan langsung bertanya kepada bu Sa: Sa lo udah dapet beras bantuan belom? Tanya bu Te, udah dong, malah gw dapet 2 karung, he… he .. jawab bu Sa. Kontan bu Te bingung dan berkata, enak banget lo, gw aja satu belom dapet. Kata-kata ibu tersebut kontan membuat bu Sa tertawa dan berkata he… he… 1000x makanya miskin dong kaya gw. Kontan membuat kami yang mendengar hal tersebut ikut menyambut dengan tawa. Ya udah deh satu karung nih buat loe sambil mengulurkan sekarung beras kepada bu Te.
Hal tersebut memang seirama dengan gaya hidup keluarga bang As, sederhana dan jauh dari cukup namun sering berbagi, ditengah-tengah kekurangan hidup mereka tak membuat mereka buta hatinya, cerita ini adalah bagian dari pelajaran bahwa mereka tetap tersenyum dengan kemiskinannya.
Salah Siapa ‘mereka’ telanjang
Maraknya perbincangan selangkangan dan sekitarnya artis cantik azhari bersaudara, bukanlah sebuah kasus yang aneh kedengarannya. Terlepas dari asli dan palsunya foto yang beredar di pasaran tidak terlalu penting kiranya, image sexy pada azhari bersaudara bagai sisi mata uang yang berdekatan, bersampingan, dan tak terpisahkan. Tapi kiranya itu terlalu personal untuk diperbincangkan atau dibahas.
Tapi hal yang perlu kita perhatikan bahwa kasus seperti itu bukan hanya terjadi pada kalangan selebritis saja, namun sudah menjamur kesemua kalangan dari pelajar hingga yang tidak terpelajar sekalipun. Hanya perbedaannya terletak pada mana daya jual yang lebih tinggi.
Butuhkah masyarakat akan persoalan yang terlalu personal seperti itu? bila jawaban anda YA, berarti berita tentang pelecehan sexsual anak dibawah umur bukan hal yang memalukan, berarti meningkatnya jumlah penjajah sex disetiap sudut kota bukanlah hal yang memprihatinkan, berarti persoalan sex bebas yang mengakibatkan HIV/AIDS itu persoalan nanti.
Bukankah seorang artis yang berpenampilan sexy adalah tuntutan dari skenario atau alasan profesionalisme (artis juga cari makan), celana mini yang dikenakan pelayan sebuah market perbelanjaan adalah sebuah kewajiban yang mutlak dan tak sedikit yang melarang menggunakan jilbab (pelayan juga cari makan) atau yang lebih ekstrem seorang PSK yang menjajahkan tubuhnya ke orang banyak adalah tuntutan dari anak mereka yang butuh susu dan sekolah (PSK juga cari makan)
Apakah kasus tersebut sebuah trend baru? itu adalah mata rantai dari sebuah skenario panjang yang dimulai dari lemahnya kontrol sosial masyarakat, bisa saja itu dimulai dengan tontonan dan bacaan yang tidak pada waktu dan tempatnya (film blue dan stensil) berimbas pada rasa penasaran dan mencoba-coba untuk merasakan apa yang dilihat, dan itu terjadi secara massal dan berangsur-angsur sehingga terbentuklah pergaulan bebas, atau ke efek yang sejenis lainnya.
Sulit memang untuk dimengerti dan terlalu singkat untuk ditulis dalam sebuah makalah atau buku, begitu kompleks persoalan yang terjadi seputar syahwat bisa-bisa nyambung hingga ke persoalan politik. Baik kiranya kita tanya hati nurani kita apa jawabannya!
Mahasiswa Vs Dosen
Saat masih duduk di bangku kuliah di sebuah universitas negeri terkemuka di indonesia. ada sebuah cerita yang mungkin sangat menyedihkan terlebih buat saya pribadi, saat itu perkuliahan telah memasuki minggu ke 4, dan di saat itu pula saya baru “sempat” untuk masuk kuliah, di karnakan beberapa alasan dan hal yang tak mampu saya tinggalkan.
Singkat punya cerita saya pun berniat untuk masuk salah satu mata kuliah tersebut, namun ketika saya menemui dosen yang memberikan mata kuliah tersebut Terjadilah percakapan yang mungkin bisa saya simpulkan:
1. ternyata sistem pendidikan kita dominan hanya di ukur lewat absen, lewat dari 75% kahadiran maka dipastikan tidak akan mendapatkan nilai karena tidak bisa ikut UTS apalagi UAS.
2. bisa atau tidaknya mahasiswa menerima dan mengerti mata kuliah yang di ajarkan itu tidak penting, yang penting tatap muka nak, bodoh, tolol, bahkan dungu sekalipun bisa dapat nilai asal ketemu dosen (bukan berarti yang pindar dan yang sudah paham ga perlu kuliah)
Tapi tak berhenti di sini saja, percakapan beralih ke topik yang lain, bertepatan dengan kaos yang saya pakai dan sandal jepit yang menempil di sepasang kaki saya, geram muka dosen kayaknya, dengan spontan ia berkata: ga sopan kamu, niat ga sih kuliah, kaya tukang becak kamu. tak lama ia pun berbalik arah dan berjalan tanpa basa-basi (kayak orang yang ngajak berantem)
Waduh gawat juga kalau niat mencari ilmu harus di barengi dan di simbolkan dengan pakaian rapi dan pake sepatu, karena akal saya yang bekerja, bukan sandal dan asesorir khan. soal singgungan tukang becak saya juga makin heran, padahal hakekat dalam tri darma perguruan tinggi mahasiswa di ajarkan untuk mengenal lingkungan, respon terhadap persoalan sosial termasuk tukang becak bukan malah menghina tukang becak dengan cara memposisikan abang becak di bawah status sosial.
Dalam cerita ini bukan bermaksud membenarkan atau membela salah satu pihak, namun hendaknya satu sama lain saling mengerti” mahasiswa mengikuti aturan(klo ga substansi lawan aja) dan dosen jangan mau menang sendiri dan merasa paling benar, masalah sistem, ya menurut anda?


